{"id":388,"date":"2022-04-15T17:02:11","date_gmt":"2022-04-15T10:02:11","guid":{"rendered":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/?p=388"},"modified":"2022-07-10T13:55:06","modified_gmt":"2022-07-10T06:55:06","slug":"cara-mudah-teknik-pcr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/?p=388","title":{"rendered":"Cara Mudah Teknik PCR"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-justify\">Reaksi Polimerase Berantai atau dikenal sebagai&nbsp;<em>Polymerase Chain Reaction<\/em>&nbsp;(PCR), merupakan suatu proses sintesis enzimatik untuk mengamplifikasi nukleotida secara&nbsp;<em>in vitro<\/em>. Metoda PCR dapat meningkatkan jumlah urutan DNA ribuan bahkan jutaan kali dari jumlah semula, sekitar 10<sup>6<\/sup>-10<sup>7&nbsp;<\/sup>kali. Setiap urutan basa nukleotida yang diamplifikasi akan menjadi dua kali jumlahnya. Pada setiap n siklus PCR akan diperoleh 2<sup>n<\/sup>&nbsp;kali banyaknya DNA target. Kunci utama pengembangan PCR adalah menemukan bagaimana cara amplifikasi hanya pada urutan DNA target dan meminimalkan amplifikasi urutan non-target.<\/p>\n\n\n\n<p>Penggunaan PCR telah berkembang secara cepat seirama dengan perkembangan biologi molekuler. PCR digunakan untuk identifikasi penyakit genetik, infeksi oleh virus, diagnosis dini penyakit seperti AIDS,&nbsp;<em>Genetic profiling in forensic, legal and bio-diversity applications,<\/em>&nbsp;biologi evolusi,&nbsp;<em>Site-directed mutagenesis of genes&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>mRNA Quantitation<\/em>&nbsp;di sel ataupun jaringan.<\/p>\n\n\n\n<p>Penemuan awal dari teknik PCR didasarkan pada tiga&nbsp;<em>waterbaths<\/em>&nbsp;yang mempunyai temperatur yang berbeda.&nbsp;<em>Thermal-cycler<\/em>&nbsp;pertama kali dipublikasikan pada tahun 1986, akan tetapi&nbsp;<em>DNA polymerase<\/em>&nbsp;awal yang digunakan masih belum&nbsp;<em>thermostable<\/em>, dan harus ditambahkan disetiap siklusnya. Kelemahan lain temperature 37\u00b0C yang digunakan bias dan menyebabkan&nbsp;<em>non-specific priming<\/em>, sehingga menghasilkan produk yang tidak dikehendaki.&nbsp;<em>Taq<\/em>&nbsp;<em>DNA polymerase<\/em>&nbsp;yang diisolasi dari bakteri&nbsp;<em>Thermus aquaticus<\/em>&nbsp;(<em>Taq)<\/em>&nbsp;dikembangkan pada tahun 1988. &nbsp;Ensim ini tahan sampai temperature mendidih 100\u00b0C, dan aktifitas maksimal pada temperatur 92-95\u00b0C.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses PCR merupakan proses siklus yang berulang meliputi denaturasi, annealing dan ekstensi oleh&nbsp;<strong><em>enzim DNA polimerase<\/em><\/strong>. Sepasang primer oligonukleotida yang spesifik digunakan untuk membuat hibrid dengan ujung-5\u2019 menuju ujung-3\u2019 untai DNA target dan mengamplifikasi untuk urutan yang diinginkan.&nbsp;<strong>Dasar siklus PCR<\/strong>&nbsp;ada 30-35 siklus meliputi:<\/p>\n\n\n\n<p>\u2013&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<strong>denaturation<\/strong>&nbsp;(95\u00b0C), 30 detik<\/p>\n\n\n\n<p>\u2013&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<strong>annealing<\/strong>&nbsp;(55\u201360\u00b0C), 30 detik<\/p>\n\n\n\n<p>\u2013&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<strong>extension<\/strong>&nbsp;(72\u00b0C), waktu tergantung panjang pendeknya ukuran DNA yang diinginkan&nbsp; sebagai produk amplifikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Peningkatan jumlah siklus PCR diatas 35 siklus tidak memberikan efek yang positif.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/fkunsri.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/IMG-20211117-WA0003-1024x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-36\"\/><figcaption><a href=\"https:\/\/eurekabiomedical.com\/eurekalab\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Eureka Research Lab-HLM, KLIK DISINI<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Denaturasi untai ganda DNA<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Denaturasi untai ganda DNA<\/em>&nbsp;merupakan langkah yang kritis selama proses PCR. Temperatur yang tinggi pada awal proses menyebabkan pemisahan untai ganda DNA. Temperatur pada tahap denaturasi pada kisaran 92-95\u00baC, suhu 94\u00baC merupakan pilihan standar. Temperatur denaturasi yang tinggi membutuhkan kandungan GC yang tinggi dari&nbsp;<em>DNA template<\/em>, tetapi&nbsp;<em>half-life<\/em>&nbsp;dari&nbsp;<em>Taq DNA Polymerase<\/em>&nbsp;menekan secara tajam pada temperatur sekitar 95\u00baC.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Primer Annealing<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Primer Annealing<\/em>, pengenalan (<em>annealing<\/em>) suatu primer terhadap DNA target tergantung pada panjang untai, banyaknya kandungan GC, dan konsentrasi primer itu sendiri. Optimalisasi temperatur&nbsp;<em>annealing<\/em>&nbsp;dimulai dengan menghitung&nbsp;<em>Melting Temperature<\/em>&nbsp;(Tm) dari ikatan primer dan DNA template.&nbsp; Cara termudah menghitung untuk mendapatkan melting-temperatur yang tepatmenggunakan rumus Tm = {(G+C)x4} +{ (A+T)x2}. Rumus standar dapat dilihat di subbab primer pada komponen PCR. Sedang temperatur annealing biasanya 5\u00baC dibawah Tm primer yang sebenarnya. Secara praktis, Tm ini dipengaruhi oleh komponen buffer, konsentrasi primer dan DNA template.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">DNA Polymerase extension<\/h2>\n\n\n\n<p>Pada tahap&nbsp;<em>extension<\/em>&nbsp;ini terjadi proses pemanjangan untai baru DNA, dimulai dari posisi primer yang telah menempel di urutan basa nukleotida DNA target akan bergerak dari ujung 5\u2019 menuju ujung 3\u2019 dari untai tunggal DNA. Proses pemanjangan atau pembacaan informasi DNA yang diinginkan sesuai dengan panjang urutan basa nukleotida yang ditargetkan. Pada setiap satu kilobase (1000bp) yang akan diamplifikasi memerlukan waktu 1 menit. Sedang bila kurang dari 500bp hanya 30 detik dan pada kisaran 500bp tapi kurang dari 1kb perlu waktu 45 detik, namun apabila lebih dari 1kb akan memerlukan waktu 2 menit di setiap siklusnya.&nbsp; Adapun temperatur ekstensi berkisar antara 70-72\u00b0C.<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">Komponen PCR<\/h1>\n\n\n\n<p>Pada reaksi PCR diperlukan DNA template, primer spesifik, ensim DNA polimerase yang thermostabil,&nbsp; buffer PCR, ion Mg&nbsp;<sup>2+<\/sup>,&nbsp; dan thermal cycler.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">1 Template DNA<\/h2>\n\n\n\n<p>Ukuran target amplifikasi biasanya kurang dari 1000 pasangan basa (bp) atau 1KB, Hasil amplifikasi yang efisien antara 100-400bp. Walaupun kemungkinan hasil amplifikasi lebih dari 1 kB tetapi prosesnya kurang efisien, karena produk yang panjang rentan terhadap inhibitor yang mempengaruhi kerja ensim DNA polymerase dan waktu yang diperlukan lebih lama. Hal ini&nbsp; dapat menyebabkan hasil amplifikasi yang tidak diinginkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">2 Primers<\/h2>\n\n\n\n<p>Primer disusun dari sintesis oligonukleotida sepanjang 15-32bp dan primer ini harus mampu mengenali urutan yang akan diamplifikasi. Untuk standar amplifikasi sepasang primer akan mempunyai kisaran pasangan basa sekitar 20 basa panjangnya pada tiap primernya. Kandungan GC harus antara 45-60%. Annealing temperatur antara primer yang digunakan harus berkisar antara 1\u00b0C. Ujung 3\u2019 dari setiap primer harus G atau C, akan tetapi hindari susunan nukleotida G\/C berturut-turut tiga pada ujung ini, misal CCG, GCG, GGC, GGG, CCC, GCC. Pada penentuan atau penyusunan sepasang primer, penting diperhatikan urutan primer tidak saling komplementer sehingga membentuk&nbsp;<em>dimer-primers<\/em>, berikatan satu sama lain, atau membentuk&nbsp;<em>hairpins<\/em>. Hal lainnya hindari menyusun primer pada daerah DNA repetitif.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">3 Taq DNA polymerase<\/h2>\n\n\n\n<p>Enzim ini bersifat thermostabil dan diisolasi dari Thermus aquaticus. Aktivitas polimerisasi DNAnya dari ujung-5\u2019 ke ujung-3\u2019 dan aktivitas enzimatik ini mempunyai waktu paruh sekitar 40 menit pada 95\u00baC. Biasanya untuk setiap 100\u03bcl volume reaksi ditambahkan 2.0-2.5 unit.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">4 PCR buffer dan konsentrasi Mg2+<\/h2>\n\n\n\n<p>Buffer standar untuk PCR tersusun atas 50mM KCl, 10mM Tris-Cl (pH8.3) dan 1.5mM MgCl<sub>2<\/sub>. Buffer standard ini akan bekerja dengan baik untuk DNA template dan primer dengan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak optimum dengan kombinasi yang lain.&nbsp; Produk PCR buffer ini terkadang dijual dalam bentuk tanpa atau dengan MgCl<sub>2<\/sub>.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsentrasi ion magnesium dalam PCR buffer merupakan faktor yang sangat kritikal, karena kemungkinan dapat mempengaruhi proses annealing primer, temperatur dissosiasi untai DNA template, dan produk PCR. Hal ini disebabkan konsentrasi optimal ion Mg<sup>2+<\/sup>&nbsp;itu sangat rendah. Hal ini penting untuk preparasi DNA template yang tidak mengandung konsentrasi&nbsp;<em>chelating agent<\/em>&nbsp;yang tinggi, seperti EDTA atau phosphat. Ion Mg<sup>2+<\/sup>&nbsp;yang bebas bila terlalu rendah atau tidak ada, maka biasanya tidak menghasilkan produk akhir PCR, sedang bila terlalu banyak ion Mg<sup>2+<\/sup>yang bebas akan menghasilkan produk PCR yang tidak diinginkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">5 Nucleotides (dNTPs)<\/h2>\n\n\n\n<p>Konsentrasi yang biasanya digunakan untuk setiap dNTP adalah 200 \u03bcM. Pada konsentrasi ini penting untuk mengatur konsentrasi ke-empat dNTP pada titik estimasi Km untuk setiap dNTP. 50mM, harus selalu diatur pH7.0. Konsentrasi yang tinggi akan menimbulkan ketidakseimbangan dengan enzim polymerase. Sedang pada konsentrasi rendah akan memberikan ketepatan dan spesifitas yang tinggi tanpa mereduksi hasil akhir. Total konsentrasi dNTP dan ion saling terkait dan tidak akan merubah secara bebas.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/fkunsri.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/IMG-20211117-WA0003-1024x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-36\"\/><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">6 PCR Thermal Cycler<\/h2>\n\n\n\n<p><em>PCR thermal cycler<\/em>&nbsp;pertama kali dikembangkan oleh perusahaan&nbsp;<em>PerkinElmer<\/em>&nbsp;sebagai pemegang paten asli. Pada saat ini telah diproduksi berbagai macam tipe alat PCR thermal cycler ini dari berbagai perusahaan yang bergerak dalam bioteknologi. Walaupun nama masing-masing alat itu berbeda tetapi prinsip kerjanya sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Apabila pembaca mendapatkan informasi dan ilmu dari artikel ini, mohon kiranya bersedia untuk mengapresiasi serta berdonasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan, cukup dengan klik salah satu iklan di halaman ini atau website ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Bagaimana cara melakukan Elektroforesis Agarose PCR<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"Bagaimana cara melakukan Elektroforesis Agarose PCR - Hand on\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/Kr2Ey6OSrWs?list=PLOfkHQMmAzwGCUkj7XdqUYLh4dQ1zg5jW\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Bagaimana sih cara pemeriksaan PCR<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"Bagaimana sih cara pemeriksaan PCR - Hands on\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/dNKydqDNg7Q?list=PLOfkHQMmAzwGCUkj7XdqUYLh4dQ1zg5jW\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Reaksi Polimerase Berantai atau dikenal sebagai&nbsp;Polymerase Chain Reaction&nbsp;(PCR), merupakan suatu proses sintesis enzimatik untuk mengamplifikasi nukleotida secara&nbsp;in vitro.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":390,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-388","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biomolekular"],"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/tdrb3.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/388","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=388"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/388\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":459,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/388\/revisions\/459"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=388"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=388"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cattleyapublicationservices.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=388"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}